Don't miss

Review Film I, Frankenstein

By on February 22, 2014

 I, Frankenstein

I, Frankenstein memulai kisahnya dengan ending dari novelnya, Film ini terlihat seperti sebuah sekuel dari sebuah karya lama kepunyaan Mary Shelley. Tidak perlu heran jika aroma gotik-modernnya terasa sangat familiar dengan quadrilogi Undeworld, karena kedua film tersebut memang berasal dari Grevioux sang pembuat komiknya yang turut membantu dalam pembuatan naskah kedua film tersebut.

Sebenarnya, sangat mudah sekali untuk mengulas film yang satu ini. karena  I, Frankenstein merupakan film yang sangat amat buruk.  Bahkan jika para penonton sudah menekan ekpektasi mereka serendah mungkin hingga titik paling rendah sejak mereka berangkat dari rumah sebelum memutuskan untuk menonton film ini, tetap saja pengalaman menonton film ini akan menjadi sesuatu yang sangat mengecewakan bagi mereka.

Sampai sini, sebenarnya kamu bisa berhenti membaca artikel ini dan membaca review film lain karna jelas tidak ada yang bisa diharapkan dari film ini. Tetapi Jangan salah, sebenarnya genre sci-fi fantasi adaptasi dari komik grafis Kevin Grevioux ini mempunyai konsep yang menarik terutama saat ia mencoba membawa monster horor klasik yang sangat populer tersebut  ke setting modern di masa kini.

Film ini memoles fisik dari mahkluk mengerikan ciptaan Dokter Frankenstein menjadi terlihat lebih rupawan tanpa embel-embel baut besar di bagian lehernya, juga menjadi lebih lincah dengan tubuh yang atletis dan lebih mematikan. Sang monster berwujud Aaron Echart yang penuh jahitan beraksi menghantamkankan dual stick bajanya ke kepala para serdadu Iblis berkostum parlente di tengah-tengah peperangan abadi antara Gargoyle  dan Demon. Tetapi sayangnya, semua kesenangan tersebut hanya sebatas konsep gila yang tidak bekerja sama sekali pada film ini.

Plot film ini sangat payah dan membosankan untuk ditonton, karakter dari Adam sang monster Frankenstein itu sangat konyol, tidak hanya karena tampilan fisiknya yang sangat jauh berbeda dari gambaran versi klasiknya, tidak juga karena tampang jutek dari Aaron Eckhart di sepanjang film, tetapi juga ada kekosongan dibalik tubuh penuh jahitan itu. Memang benar ada cerita tentang perjalanan panjang dari sosok Adam yang dinamakan oleh sang ratu Gorgoyle tersebut,

Sebuah sosok ciptaan yang marah dalam usahanya mencari jawaban tentang eksitensinya sendiri. Tetapi bagian tersebut tidak pernah benar-benar dipoles dengan serius dalam film ini, hal itu tida lebih dari hanya sekedar tempelan belaka untuk konflik utamanya yakni peperangan antara malaikat dan iblis di bumi yang sebenarnya juga mengecewakannya, Romansanya bersama sang ilmuwan cantik Terra Wade yang terobsesi untuk membangkitkan orang mati pun sama saja.

Beruntung dalam film ini masih ada sosok Bill Nighy yang sejauh ini memang belum pernah mengecewakan ketika memerankan sosok antagonis dengan keangkeran yang keluar dari kata-katanya yang halus, serta tatapannya yang dingin.

 i_frankenstein_2014_movie-wide

Share Yuk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>