Don't miss

Film Soekarno berhasil ‘Menggelitik’ Bengkulu.

By on December 14, 2013

Film Soekarno berhasil ‘Menggelitik’ Bengkulu.

Film soekarno memang sedang menjadi fenomena besar di Indonesia, bagaimana tidak film tersebut yang mencerikatan ‘bapak’ bangsa Indonesia sekaligus tokok proklamator tersebut telah berhasil menyita banyak perhatian dan mampu ‘menyentil’ rasa kebangsaan kita yang sekarang ini sudah mulai memudar.

Buktinya, pemutaran Film Soekarno besutan sutradara Hanung Bramantyo tersebut disambut dengan sangat antusias di beberapa daerah, termasuk Bengkulu. Meski demikian, film ini pun menuai sejumlah kritik dari para penikmat film.

Lokasi pengambilan gambar atau lokasi syuting, merupakan salah satu yang mendapat banyak kritik dalam film ini.

Sayangnya setting (pengambilan gambar) Bengkulu tidak berada di Bengkulu melainkan di Jogjakarta, mungkin saja kalau bener-bener berada di Bengkulu akan lebih terasa ‘greget’ nya,” ujar salah seorang warga Bengkulu Sofian Rafflesia di laman jejaring sosial Facebooknya.

Sebelum menuliskan kritik itu, Sofian juga mengatakan, “Porsi Bengkulu di film Soekarno cukup besar, anak Bengkulu wajib nonton deh bagaimana kisah perjuangan Bung Karno ketika diasingkan di Bengkulu.”

Sofian pun tidak segan untuk menyebutkan deretan lokasi di Bengkulu yang masuk dalam film berdurasi 2 jam tersebut. Di antaranya, rumah Bung Karno selama menjalani pengasingan di Bengkulu, rumah Fatmawati, Pasar Bengkulu, dan Pantai Panjang.

Komentar senada juga ikut dilontarkan oleh pengguna lain jejaring sosial Facebook, Rodi Rhay. “Sayang sekali bahasa bengkulu-nya kurang pas. Seharusnya sutradara survei dulu dengan orang bengkulu asli bagaimana menggunakan bahasa bengkulu yang benar…

Rodi pun sangat menyayangkan lokasi pengambilan gambar untuk menggambarkan Bengkulu tempo dulu justru dilakukan di luar kota itu. Selain itu Lokasi pengambilan gambar dan penggunaan bahasa lokal yang tidak pas, menurut dia akan membuat beberapa adegan dalam film tersebut terasa kurang pas.

Menurut pemilik akun facebook “Ganti Namo Jadi Pengendara Lusuh”, logat yang banyak dipakai dalam percakapan film tersebut merupakan logat minang, bukan logat Bengkulu secara keseluruhan. Sementara akun lain juga menyayangkan cerita film yang seharusnya kuat malah digarap dengan memunculkan kesan kualitas sinetron Indonesia yang terlalu. “Penuh konflik,” tulis Medy Saragih.

Meski demikian banyak juga warga Bengkulu menilai film Soekarno cukup membakar rasa kebangsaan dan nasionalisme mereka. Pada awal pemutaran film, bahkan para penonton diajak secara bersama-sama untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Waktu peluncuran film tersebut dinilai sangat pas sekali karena sebentar lagi Indonesia akan segera memilih presiden, semoga saja dengan adanya film ini bisa menjadi inspiras untuk presiden dimasa mendatang untuk menata dan mengelola Negara ini dengan gaya dan ‘ketegasan’ seorang Soekarno.

Share Yuk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>