Don't miss

Pasangan Lebih Suka Beradu Argumentasi daripada Minta Maaf

By on December 13, 2013

Pasangan Lebih Suka Beradu Argumentasi daripada Minta Maaf Ternyata tidak hanya teknologi saja yang makin berkembang, ternyata hubungan asmara yang dijalani tiap pasangan jug sekarang ini juga mengalami banyak perubahan yang sangat signifikan. Banyak batasan-batasan dimasa lalu kini telah hilang di makan jaman, belum lagi hal-hal tabu yang biasanya dilakukan di dalam masa pacaran kini perlahan mulai menghilang. Penelitian yang dilakukan oleh Baylor University yang kemudian dipublikasikan dalam Journal of Social and Clinical Psychology ini telah meminta 455 pasangan menikah untuk mengungkapkan solusi yang paling ideal bagi mereka dalam menangani pertengkaran yang terjadi di dalam rumah tangganya. Agak mengherankan memang, bukan permintaan maaf yang lebh menjadi keinginan besar mereka, tetapi mereka akan mencari siapa pemenang dalam pertengkaran tersebut dan itulah yang menjadi akhir dari penyelesaian sebuah konflik. "Kita pasti memiliki kepuasan (ketika memenangkan pertengkaran). Ketika kita merasa dikritik atau merasa diserang, maka tentu saja kita akan memiliki kecenderungan untuk merasa kekhawatiran yang akan mendasari ancaman terhadap status kita, dan ketika itu terjadi maka biasanya kita ingin pasangan yang mengalah atau kalau bisa mundur untuk menghindari saling serang,” kata Keith Sanford, profesor psikologi dan ilmu saraf di Baylor University. Setelah memenangi adu argumentasi, hal berikutnya yang diinginkan pasangan ketika bertengkar adalah menghentikan perilaku permusuhan, berkomunikasi lebih sering, dan memberikan kasih sayang yang ditunjukkan dengan cara berbagai hal. Pasangan juga lebih memilih untuk membisu hingga akhirnya salah satu dari mereka membuka suara dan berinisiatif memulai perbincangan kembali. Namun, permintaan maaf yang harus diucapkan masih tetap berada pada peringkat paling akhir. “Hal-hal yang diinginkan pasangan satu sama lain selama konflik akan tergantung pada masalah yang mendasarinya dan cara untuk menyelesaikan konflik itu. Mereka mungkin perlu menggunakan taktik yang berbeda untuk mengatasi masalah di antara mereka," papar Sanford. Bagi sebagian kalangan ini merupakan sebuah kekhawatiran tersendiri, dimana sikap saling serang untuk mendapatkan pemenang dalam pertengkaran dinilai akan sangat mencederai arti sebuah hubungan. Maka tidak heran jika semakin hari kita semakin terbiasa mendengar orang yang memilih untuk bercerai, padahal usia perkawinan mereka relative masih baru. Tetapi sebagian kalangan menganggap bahwa ini merupakan hal biasa, dimana perubahan jaman akan diikuti denga pergeseran nilai-nilai sebuah kebudayaan. Maka tidak heran ketika dalam hubungan pun ada pergeseran nilai-nilai atau arti sebuah kerukunan yang akhirnya pilihan bepisah menjadi lebih atas daripada pilihan meminta maaf.Pasangan Lebih Suka Beradu Argumentasi daripada Minta Maaf Ternyata tidak hanya teknologi saja yang makin berkembang, ternyata hubungan asmara yang dijalani tiap pasangan jug sekarang ini juga mengalami banyak perubahan yang sangat signifikan. Banyak batasan-batasan dimasa lalu kini telah hilang di makan jaman, belum lagi hal-hal tabu yang biasanya dilakukan di dalam masa pacaran kini perlahan mulai menghilang. Penelitian yang dilakukan oleh Baylor University yang kemudian dipublikasikan dalam Journal of Social and Clinical Psychology ini telah meminta 455 pasangan menikah untuk mengungkapkan solusi yang paling ideal bagi mereka dalam menangani pertengkaran yang terjadi di dalam rumah tangganya. Agak mengherankan memang, bukan permintaan maaf yang lebh menjadi keinginan besar mereka, tetapi mereka akan mencari siapa pemenang dalam pertengkaran tersebut dan itulah yang menjadi akhir dari penyelesaian sebuah konflik. "Kita pasti memiliki kepuasan (ketika memenangkan pertengkaran). Ketika kita merasa dikritik atau merasa diserang, maka tentu saja kita akan memiliki kecenderungan untuk merasa kekhawatiran yang akan mendasari ancaman terhadap status kita, dan ketika itu terjadi maka biasanya kita ingin pasangan yang mengalah atau kalau bisa mundur untuk menghindari saling serang,” kata Keith Sanford, profesor psikologi dan ilmu saraf di Baylor University. Setelah memenangi adu argumentasi, hal berikutnya yang diinginkan pasangan ketika bertengkar adalah menghentikan perilaku permusuhan, berkomunikasi lebih sering, dan memberikan kasih sayang yang ditunjukkan dengan cara berbagai hal. Pasangan juga lebih memilih untuk membisu hingga akhirnya salah satu dari mereka membuka suara dan berinisiatif memulai perbincangan kembali. Namun, permintaan maaf yang harus diucapkan masih tetap berada pada peringkat paling akhir. “Hal-hal yang diinginkan pasangan satu sama lain selama konflik akan tergantung pada masalah yang mendasarinya dan cara untuk menyelesaikan konflik itu. Mereka mungkin perlu menggunakan taktik yang berbeda untuk mengatasi masalah di antara mereka," papar Sanford. Bagi sebagian kalangan ini merupakan sebuah kekhawatiran tersendiri, dimana sikap saling serang untuk mendapatkan pemenang dalam pertengkaran dinilai akan sangat mencederai arti sebuah hubungan. Maka tidak heran jika semakin hari kita semakin terbiasa mendengar orang yang memilih untuk bercerai, padahal usia perkawinan mereka relative masih baru. Tetapi sebagian kalangan menganggap bahwa ini merupakan hal biasa, dimana perubahan jaman akan diikuti denga pergeseran nilai-nilai sebuah kebudayaan. Maka tidak heran ketika dalam hubungan pun ada pergeseran nilai-nilai atau arti sebuah kerukunan yang akhirnya pilihan bepisah menjadi lebih atas daripada pilihan meminta maaf.

Ternyata tidak hanya teknologi saja yang makin berkembang, ternyata hubungan asmara yang dijalani tiap pasangan jug sekarang ini juga mengalami banyak perubahan yang sangat signifikan. Banyak batasan-batasan dimasa lalu kini telah hilang di makan jaman, belum lagi hal-hal tabu yang biasanya dilakukan di dalam masa pacaran kini perlahan mulai menghilang.

Penelitian yang dilakukan oleh Baylor University yang kemudian dipublikasikan dalam Journal of Social and Clinical Psychology ini telah meminta 455 pasangan menikah untuk mengungkapkan solusi yang paling ideal bagi mereka dalam menangani pertengkaran yang terjadi di dalam rumah tangganya.

Agak mengherankan memang, bukan permintaan maaf yang lebh menjadi keinginan besar mereka, tetapi mereka akan mencari siapa pemenang dalam pertengkaran tersebut dan itulah yang menjadi akhir dari penyelesaian sebuah konflik.

“Kita pasti memiliki kepuasan (ketika memenangkan pertengkaran). Ketika kita merasa dikritik atau merasa diserang, maka tentu saja kita akan memiliki kecenderungan untuk merasa kekhawatiran yang akan mendasari ancaman terhadap status kita, dan ketika itu terjadi maka biasanya kita ingin pasangan yang mengalah atau kalau bisa mundur untuk menghindari saling serang,” kata Keith Sanford, profesor psikologi dan ilmu saraf di Baylor University.

Setelah memenangi adu argumentasi, hal berikutnya yang diinginkan pasangan ketika bertengkar adalah menghentikan perilaku permusuhan, berkomunikasi lebih sering, dan memberikan kasih sayang yang ditunjukkan dengan cara berbagai hal.

Pasangan juga lebih memilih untuk membisu hingga akhirnya salah satu dari mereka membuka suara dan berinisiatif memulai perbincangan kembali. Namun, permintaan maaf yang harus diucapkan masih tetap berada pada peringkat paling akhir.

“Hal-hal yang diinginkan pasangan satu sama lain selama konflik akan tergantung pada masalah yang mendasarinya dan cara untuk menyelesaikan konflik itu. Mereka mungkin perlu menggunakan taktik yang berbeda untuk mengatasi masalah di antara mereka,” papar Sanford.

Bagi sebagian kalangan ini merupakan sebuah kekhawatiran tersendiri, dimana sikap saling serang untuk mendapatkan pemenang dalam pertengkaran dinilai akan sangat mencederai arti sebuah hubungan. Maka tidak heran jika semakin hari kita semakin terbiasa mendengar orang yang memilih untuk bercerai, padahal usia perkawinan mereka relative masih baru.

Tetapi sebagian kalangan menganggap bahwa ini merupakan hal biasa, dimana perubahan jaman akan diikuti denga pergeseran nilai-nilai sebuah kebudayaan. Maka tidak heran ketika dalam hubungan pun ada pergeseran nilai-nilai atau arti sebuah kerukunan yang akhirnya pilihan bepisah menjadi lebih atas daripada pilihan meminta maaf.

Share Yuk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>