Don't miss

Wanita Suku Matriarki di China Bisa Berganti Pasangan di Luar Pernikahan

By on November 10, 2013

Di dunia yang begitu luas ini, kamu tentu tahu kalau kebudayaan ada beraneka ragam. Di Indonesia sendiri kita juga mengenal ribuan suku dengan tradisinya sendiri-sendiri. Apalagi di seluruh pelosok dunia dengan adat dan kebiasaannya masing-masing. Mungkin kamu pernah mendengar tentang Suku Mosuo?

Mungkin kamu sudah tahu kalau Suku Mosuo, atau yang sering dieja menjadi Musuo maupun Moso, adalah salah satu suku bergaris keturunan di pihak wanita di antara semua suku di dunia. Seperti halnya Suku Padang di Indonesia, Suku Mosuo di China juga bersistem matriarki. Walau demikian, tetap ada perbedaan mendasar di antara Suku Mosuo dengan Suku Padang, maupun suku-suku matriarkis lainnya.

Selain wanita yang menjadi kepala keluarga, ada tradisi yang bisa jadi tidak dipraktikkan oleh suku di dalam kultur matriarki lain. Tradisi yang lain daripada yang lain ini dikenal sebagai tradisi zuo hun atau walking marriage. Tradisi ini di dalam budaya Mosuo yang berdomisili di Yunnan dan Sichuan adalah adat kebiasaan di mana para wanita bebas untuk berganti pasangan tanpa terikat di dalam pernikahan.

Para wanita Mosuo mulai menjalani tradisi ini setelah masa inisiasi—upacara kedewasaan—mereka ketika usianya menginjak sekitar 13 tahun. Di saat itu, mereka boleh memilih kekasih yang sama-sama berasal dari Suku Mosuo. Para wanita bisa saja memiliki sesedikit ataupun sebanyak mungkin kekasih sesuai keinginan mereka.

Uniknya lagi, di dalam kebudayaan Mosuo, masyarakatnya tidak mengenal kata suami ataupun ayah. Semua pria di dalam tradisi mereka disebut sebagai ‘paman’. Karena itulah mereka tidak kenal juga dengan ungkapan ‘ayah kandung’ atau ‘ayah biologis’.

Pemerintah China melestarikan tradisi ini dan mempromosikan tradisi zuo hun sebagai daya tarik wisata. Sayangnya, niat baik pemerintah malah disalahgunakan oleh para pengelola wisata komersial. Tradisi zuo hun diputarbalikkan sebagai adat di mana para wanita Mosuo dijadikan komoditas di dalam industri seks untuk tujuan turisme bagi para wisatawan yang datang ke sana. Ironisnya, para promotor dan pengelola wisata tersebut bukanlah orang-orang asli Mosuo sendiri.

Satu yang pasti, tradisi di China ini menjadikan seks bebas di kalangan remaja yang berkiblat ke Amerika Serikat—atau budaya mana pun di dunia yang katanya modern—jadi terasa ketinggalan zaman dan tidak modern lagi, ya. Lebih-lebih, di dalam kultur Suku Mosuo juga tidak mengakrabi tradisi pernikahan secara legal. Sehingga, secara otomatis mereka tidak mengenal pula istilah dan julukan semacam anak di luar nikah ataupun melakukan tindakan zina. Belum lagi kalau di seks bebas yang dianut oleh orang-orang yang menganggap dirinya modern malah membuat diri mereka sendiri terjangkit penyakit di organ kelamin yang lantas membahayakan kesehatan fisik dan jasmani secara keseluruhan.

Share Yuk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>